Beranda/ Prodi/ Teknik Elektro
Teknik

Teknik Elektro

Teknik Elektro mempelajari desain, analisis, dan penerapan sistem kelistrikan dan elektronika — dari sirkuit mikro hingga jaringan tenaga listrik skala besar. Lulusannya bisa berkarier di berbagai sektor: power systems, otomasi industri, telekomunikasi, elektronika, hingga embedded systems dan IoT.

Bandingkan prodi
Jenjang S1 · 4 tahun
Permintaan pasar Tinggi, terus meningkat
Gaji menengah Rp 10–15 jt /bln
01

Big Picture

DATA

Mempelajari prinsip dasar kelistrikan, elektronika, dan elektromagnetik beserta penerapannya dalam merancang sistem tenaga listrik, sistem kendali, elektronika daya, pengolahan sinyal, dan sistem komunikasi. Mahasiswa dibekali fondasi matematika dan fisika yang kuat, lalu mendalami sub-bidang spesifik sesuai minat — dari power systems hingga embedded systems.

Mata kuliah inti

  • Matematika Teknik
  • Rangkaian Listrik
  • Elektronika Analog
  • Elektronika Digital
  • Sistem Tenaga Listrik
  • Sistem Kendali
  • Sistem Komunikasi
  • Mikroprosesor & Embedded Systems
  • Pengolahan Sinyal Digital
  • Elektronika Daya
SIAPA YANG COCOK

Cocok buat kamu yang suka memahami cara kerja perangkat elektronik dan sistem kelistrikan, tertarik pada fisika dan matematika, serta ingin merancang solusi teknis untuk masalah nyata di bidang energi, otomasi, atau telekomunikasi.

Jenjang pendidikan

apa bedanya dengan jenjang lain?
D3
Program diploma 3 tahun di politeknik, fokus praktis dan keterampilan kerja langsung (misalnya D3 Teknik Elektro di POLBAN, PNJ, POLINES). Lulusan mendapat gelar A.Md (Ahli Madya) dan siap kerja di level teknisi — instalasi, maintenance, pengujian. Kurikulum lebih sedikit teori, lebih banyak praktikum. Cocok kalau kamu ingin cepat kerja dengan skill teknis yang terapan.
D4
Program diploma 4 tahun (sarjana terapan), misalnya D4 Teknologi Rekayasa Elektro atau D4 Teknik Otomasi Listrik Industri. Durasi sama dengan S1 tapi gelar S.S.T (Sarjana Sains Terapan) dan fokus lebih praktis — desain sistem, commissioning, troubleshooting di lapangan. Bisa lanjut S2, tapi kurang teori riset dibanding S1.
S2
Program magister 1,5–2 tahun (misalnya di UI, ITB, ITS, Telkom University). Mengambil spesialisasi mendalam di sub-bidang tertentu — power systems, signal processing, control engineering, atau telekomunikasi. Ada jalur riset (thesis) dan non-resiset (project). Cocok untuk yang ingin naik ke posisi senior engineer, konsultan, atau peneliti. Syarat masuk: S1 Teknik Elektro atau bidang terkait.
S3
Program doktor 3–4 tahun (tersedia di ITS sejak 2004, UI, ITB, Telkom University). Fokus riset mandiri untuk menghasilkan kontribusi orisinal ke bidang teknik elektro — publikasi ilmiah, disertasi, pembimbingan mahasiswa. Lulusan jadi peneliti profesional, akademisi, atau pemimpin riset di industri. Sangat spesifik dan hanya cocok jika kamu berminat di dunia riset atau akademik.

Sering tertukar dengan…

apa bedanya?
vsTeknik Informatika
Teknik Informatika fokus ke software dan pemrograman; Teknik Elektro fokus ke hardware, sistem kelistrikan, elektronika, dan signal processing — meski ada overlap di embedded systems.
vsTeknologi Informasi
Teknologi Informasi mengelola infrastruktur IT dan jaringan komputer; Teknik Elektro merancang sistem tenaga, elektronika, dan kontrol yang lebih ke arah hardware dan fisika.
vsTeknik Biomedik
Teknik Biomedik menerapkan prinsip teknik elektro untuk alat kesehatan dan sistem medis; Teknik Elektro lebih umum dan lintas sektor.
vsTeknik Telekomunikasi
Teknik Telekomunikasi fokus ke sistem komunikasi dan jaringan; Teknik Elektro mencakup bidang itu plus power systems, kontrol, dan elektronika.

Mitos vs Fakta

MITOS Teknik Elektro cuma soal benerin listrik dan instalasi rumah.
FAKTA Scope-nya jauh lebih luas: dari merancang chip elektronik, sistem tenaga pembangkit, kendali robotik, sampai pengolahan sinyal dan komunikasi nirkabel.
MITOS Lulusan Teknik Elektro hanya bisa kerja di PLN.
FAKTA Peluang kerja tersebar di manufaktur, oil & gas, otomasi industri, telekomunikasi, startup teknologi, konsultan engineering, hingga riset dan pengembangan.
MITOS Harus jago fisika sejak SMA untuk masuk Teknik Elektro.
FAKTA Yang dibutuhkan ketekunan belajar dan fondasi logika/matematika yang baik. Banyak konsep fisika baru dipelajari dari nol saat kuliah.
MITOS Prospek karier Teknik Elektro kalah dari jurusan komputer.
FAKTA Kebutuhan engineer elektro tetap tinggi, terutama di sektor energi terbarukan, otomasi industri, EV, dan smart grid — bidang yang terus tumbuh.
02

Toolkit & Persiapan

GUIDE

Hardware & software pribadi yang perlu kamu siapkan sebelum kuliah — kebutuhannya berbeda tiap prodi. Alat berat & mahal biasanya sudah disediakan kampus.

SPEK LAPTOP MINIMUM

Laptop Windows, minimal RAM 8 GB (16 GB lebih baik), prosesor i5/Ryzen 5 ke atas. Untuk menjalankan software simulasi seperti MATLAB/Simulink, LTspice, dan tool EDA.

PERKIRAAN BUDGET AWAL
Rp 2–5 jt

Sekali beli, bisa dipakai sepanjang kuliah.

Multimeter digital
Untuk praktikum rangkaian dan pengukuran dasar listrik
Wajib
Soldering station
Untuk merangkai dan memperbaiki rangkaian elektronika
Wajib
Breadboard & jumper wire
Untuk prototyping rangkaian tanpa solder
Wajib
Komponen elektronik dasar
Resistor, kapasitor, LED, IC, transistor — beli paket starter kit
Wajib
Oscilloscope portabel
Biasanya tersedia di lab kampus, tapi punya sendiri memudahkan praktik mandiri
Opsional
Programmer/debugger mikrokontroler
Arduino, STM32, atau ESP32 — untuk proyek embedded/IoT
Opsional
MATLAB/Simulink
Lisensi kampus biasanya tersedia — cek saat orientasi
Wajib
Software EDA (LTspice, KiCad)
Gratis untuk simulasi rangkaian dan desain PCB
Wajib
03

Facility Checklist

GUIDE

Pertanyaan khusus Teknik Elektro untuk dibawa saat open house atau survei kampus. Fasilitas penting di tiap jurusan berbeda — ini yang paling menentukan.

Catatan: Myjor tidak menyimpan database fasilitas tiap kampus. Ini alat untuk kamu menilai sendiri.

Ada Lab Rangkaian Listrik yang memadai untuk praktikum DC/AC?
Ada Lab Elektronika Analog dan Digital dengan peralatan modern?
Ada Lab Sistem Tenaga Listrik (power systems)?
Ada Lab Sistem Kendali / Control Systems?
Ada Lab Komunikasi untuk praktikum modulasi dan transmisi?
Ada Lab Mikroprosesor / Embedded Systems?
Ada Lab Robotika atau IoT?
Oscilloscope dan signal generator tersedia per kelompok praktikum, bukan per kelas?
Ada akses ke software simulasi (MATLAB/Simulink, PSpice, ETAP)?
Ada workshop / bengkel untuk praktik instalasi dan maintenance?
Ada kerja sama vendor peralatan lab (National Instruments, Texas Instruments)?
Ada fasilitas penunjang riset untuk mahasiswa tingkat akhir?

Tips: minta tur ke lab/studio yang relevan, bukan hanya gedung utama. Tanya jam akses & apakah alat boleh dipakai mahasiswa S1.

04

Academic Quality

GUIDE

Tiga hal objektif untuk menilai kualitas akademik sebuah prodi — lengkap dengan cara mengeceknya sendiri.

A

Status akreditasi prodi

Cek peringkat akreditasi prodi (bukan hanya kampusnya) di laman resmi. Akreditasi internasional jadi nilai tambah untuk jurusan tertentu.

Unggul / A — terbaik Baik Sekali / B Baik / C

Cek di: BAN-PT (banpt.or.id) atau LAM sesuai rumpun, & PDDIKTI (pddikti.kemdikbud.go.id).

B

Rasio dosen–mahasiswa & cara hitungnya

rasio = jumlah mahasiswa aktif ÷ jumlah dosen tetap
Contoh: 600 mahasiswa ÷ 25 dosen = 1 : 24
Ideal: ±1:20 untuk rumpun eksakta/sains-teknik, ±1:30 untuk sosial/humaniora (acuan Kemdikbud).
!Makin kecil angka kedua, makin banyak perhatian per mahasiswa. Di atas 1:40 patut diwaspadai.
!Cek juga kualifikasi dosen (S2/S3) & ada tidaknya dosen praktisi dari industri.
C

Riset dosen — apakah relevan & terkini?

Lihat profil dosen & publikasinya (Google Scholar / SINTA). Untuk Teknik Elektro, cari yang meneliti topik yang sedang relevan:

Energi terbarukan & smart gridSistem kendali & otomasi industriElektronika daya (power electronics)Pengolahan sinyal & komunikasiEmbedded systems & IoTRobotika & mekatronikaSistem tenaga listrik & proteksiKecerdasan buatan untuk sistem embeddedKendaraan listrik (EV) & charging infrastructureSmart home & building automation

Mis. apakah ada dosen yang riset soal AI, atau riset terkait kanker? Topik aktif menandakan prodi mengikuti perkembangan bidang.

TANYAKAN SAAT OPEN HOUSE

“Berapa rasio dosen–mahasiswa prodi ini? Apa topik riset dosen yang sedang berjalan? Berapa persen lulusan bekerja sesuai bidang dalam 6 bulan?”

05

Kerjasama & Mitra

GUIDE

Kerja sama kampus sangat menentukan jalur magang, riset, & karier. Jenis mitra yang penting berbeda tiap jurusan — ini yang relevan untuk Teknik Elektro.

Sertifikasi profesi
Ada jalur sertifikasi kompetensi (PII — Persatuan Insinyur Indonesia, BNSP) yang difasilitasi kampus?
Magang industri
Ada jalur magang di perusahaan EPC, manufaktur, utilitas, atau telko? Ikut program MSIB / Kampus Merdeka?
Riset bersama industri
Ada riset kolaborasi dengan perusahaan besar (PLN, Siemens, ABB, Schneider Electric, Telkom)?
Lab bersama vendor
Ada kerja sama lab dengan vendor teknologi (National Instruments, Texas Instruments, Analog Devices)?
Kemitraan BUMN
Ada jalur rekrutmen atau kerja sama langsung dengan BUMN sektor energi dan telekomunikasi?
Kompetisi & olimpiade
Ada dukungan untuk kompetisi teknik (Kontes Robot, Electrical Engineering Competition)?

Minta daftar mitra resmi & MoU yang masih aktif — bukan sekadar logo di brosur. Tanya berapa mahasiswa yang benar-benar tersalurkan tiap tahun.

06

Career & Salary

DATA
Awal
0–2 tahun
Rp 5–8 jt
per bulan
Menengah
3–6 tahun
Rp 10–15 jt
per bulan
Senior
7+ tahun
Rp 15–30 jt
per bulan
Jalur karierKisaran gaji /bln
Electrical Engineer Rp 6–12 jt
Power Systems Engineer Rp 8–20 jt
Control Systems Engineer Rp 7–15 jt
Embedded Systems Engineer Rp 7–18 jt
Automation Engineer Rp 7–15 jt
Project Engineer (EPC) Rp 8–20 jt
Telecommunications Engineer Rp 6–14 jt
Maintenance Engineer Rp 5–10 jt
R&D Engineer Rp 8–18 jt
Konsultan Teknik Rp 10–25 jt

Sumber: survei gaji industri Myjor 2024 (n=4.200), BPS, dan portal lowongan. Angka median, dipengaruhi kota, perusahaan, dan pengalaman.

Sumber & Referensi

Data karier & gaji di atas ditelusuri ke sumbernya. Klik untuk buka/tutup daftar sumber.